Komnas Turba Ke Tanah Awuk
1O Oktober 2005
Setelah terjadi tragedi kemanusian, akibatan tindak pembatalan ilegal yang kemudian berbuntut pada tindak kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap rapat umum petani di desa Tanak Awu kecamatan Pujut kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat pada hari Minggu 18 September 2005, berbagai elemen kritis masyarakat sipil demokratis, pada hari Senin 19 September 2005, menuntut Komnas Ham untuk bersikap atas pelanggaran ham tersebut.
Secara terpisah - dalam siaran pers Nomer 019/SP-PBHI/IX/05 tanggal 19 September 2005 – PBHI menyatakan menuntut perhatian dari KOMNAS HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia), karena tanggungjawab KOMNAS HAM dituntut sebagaimana diatur dalam Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.
Dan akhirnya dari hari Kamis, 6 Oktober hingga hari Sabtu, 8 Oktober 2005, Komnas Ham menurunkan tim ke pulau Lombok. Tim Komnas Ham terdiri dari tiga komisioner: Hasbalah M Saad, Eni Suprapto, Amidhan, dan dua orang staf fungsional: Jayadi Damanik dan Odhis.
Kamis sore, 6 Oktober 2005, tim dari Komnas Ham bertemu dengan para petani korban yang didampingi oleh para pengurus SERTA NTB, FSPI, dan PBHI kuasa hukum yang bersama beberapa elemen setempat membentuk TKP (Tim Keadilan bagi Petani).
Hal yang paling menarik anggota Komnas Ham adalah testimoni dari korban, seorang ibu yang keguguran (hamil dua bulan) dan mengalami pendarahan selama dalam tahanan Polres Lombok Tengah. Beberapa dokumentasi yang disusun TKP telah diserahkan kepada tim dari Komnas Ham tersebut.
Hari Jumat dan Sabtu, Komnas Ham bertemu mencoba bertemu dengan Polres Lombok Tengah, Kodim Lombok Tengah, dan Bupati Lombok Tengah. Namun dengan alasan sakit atau memeriksakan kesehatan, Komandan Kodim dan Bupati tidak bisa menemui tim dari Komnas Ham.
Kekerasan terhadap aktivis masyarakat sipil juga terus meningkat, setelah sebelumnya rumah seorang aktvivis NGO/LSM dibakar rumahnya, pada hari Minggu 9 Oktober 2005, Haji Hanan, tokoh masyarakat Tanak Awu dan salah seorang yang memberikan testimoni di DPRD dan kepada Komnas Ham rumahnya dirampok oleh 20 orang.

