Pbhi Dan Aspek Tolak Revisi UUK Bersama Pelawak
Semenjak pagi massa aksi dari ASPEK (Asosiasi Serikat Pekerja) Indonesia – terdiri dari Serikat Pekerja Securicor Indonesia, Serikat Karyawan BII, Serikat Karyawan BNI, dan beberapa serikat karyawan dari beberapa bank – telah membentuk barisan menyusuri jalan Jenderal Sudirman menuju Tugu Proklamasi guna mengikuti aksi mimbar bebas yang diselenggarakan oleh PBHI dan ASPEK Indonesia dalam rangka aksi menolak revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sekaligus memperingati ulang tahun Serikat Pekerja Securicor Indonesia.
Peringatan HUT ini diwarnai duka mendalam karena ratusan pekerja PT Securicor terkena PHK semenjak tahun lalu, - kasus PHK ini dalam proses hukumnya ditangani oleh PBHI.
Sesampai di Tuprok, mimbar bebas demokrasi segera bergemuruh dengan hentakan musik, orasi-orasi, dan seruan-seruan, apalagi setelah Gunawan, dari PBHI naik ke mimbar dan mengajak massa aksi untuk berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Sumpah Rakyat Indonesia.
Dalam orasinya Gunawan menyerukan perlunya dibentuk front buruh-tani, mengatakan bahwa produk hukum yang sekarang ini muncul di lapangan agraria, perburuhan, pendidikan dan lain-lain adalah produk dari kolusi antara modal internasional, konglomerat hitam dan pemerintah.”Maka jika pengusaha dan penguasa berkolusi, jangan salahkan rakyat jika menyerukan revolusi”, demikian tukas Mas Gun – demikian kawan-kawan PBHI memanggil dia – dengan lantang. Gunawab juga menyatakan, jika produk hukum diciptakan guna kepentingan modal asing dan menindas rakyat, maka rakyat pekerja Indonesia haruslah menyanyikan lagu para pemuda di tahun 1945, “darah rakyat masih berjalan menderita sakit dan miskin, pada saatnya pembalasan kita yang menjadi hakim”.
Setelah orasi-orasi, acara diisi dengan semacam talkshow, dengan mc penasehat Presiden Republik BBM, Effendy Ghazaly yang disertai dengan Wapres Republik BBM, Kelik Pelipur Lara. Para pembicaranya adalah Yanuar Rizky, Sekjend ASPEK, Johnson Panjaitan, Ketua Badan Pengurus PBHI, Riptaning, anggota Komisi IX DPR RI, dan lain-lain, dimeriahkan juga dengan penampilan beberapa anggota grup lawak Srimulat seperti Tarsan dan Marwoto.
Dalam kesempatan ini, Johnson Panjaitan menyatakan perlunya persatuan dianatara buruh, petani, dan para pengangguran menuntut tanggungjawab negara memenuhi hak atas pangan dan hak atas pekerjaan masyarakat. Johnson juga menegaskan bahwa kita harus menolak tripatrit nasional yang diisi para broker.[]

