Pemuda, Buruh Dan Petani, Rebut Isu Populisme
Persatuan Perjuangan buruh, petani dan pemuda harus mampu merebut isu populisme, menentukan langkah ofensif, dan menuntut tanggung jawab negara. Demikian salah satu resolusi yang dihasilkan dalam workshop bertema “Jalan Baru untuk Perjuangan Rakyat Pekerja,” kemarin (27-28/3) di Wisma Tanah Air Jakarta.
Workshop yang diinisiasi oleh Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI), Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI), Serikat Buruh Jabotabek (SBJ), dan Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) ini juga menyepakati adanya konsolidasi demi kesadaran kolektif gerakan.
Banyak fakta dan wacana baru muncul dalam acara tersebut. Pasalnya, peserta yang hadir berasal dari pelbagai daerah, dan perwakilan lintas sektoral melaporkan kondisi subyektif masing-masing. Mereka antara lain; Dewan Tani Karawang (DTK), Serikat Buruh Sumatera Utara (SBSU), Solidaritas Anak Jalanan untuk Demokrasi (SALUD) Jakarta, Serikat Buruh Regional (SBR) Jawa Timur, Serikat Buruh Medan Independen (SBMI), Dewan Buruh Jawa Timur (DBJT), Aliansi Buruh Yogyakarta (ABY), Kelompok Kerja Humanika Surabaya, dan Urban Poor Consortium (UPC).
Sebagai awalan, tiap-tiap organisasi memaparkan permasalahan sektoral yang dihadapi. Secara garis besar, irisan masalah yang muncul yakni, negara yang mengabaikan tanggung jawab, kriminalisasi gerakan rakyat, otonomi daerah yang melahirkan masalah baru, dan kontradiksi antar sektoral. “Di Medan, hari ini saja sudah 8 anggota kami yang ditangkap dengan tuduhan criminal,” ujar Suhib Nurido dari SBMI mencontohkan.
“Liberalisasi pasca ’98, setiap ruang telah dibajak oleh kelompok oligarkhi, dan tidak memberi kesempatan pada gerakan rakyat,” ungkap Fransisco Lolo, Sekjend FPPI menambahkan. Wacana tentang neoliberalisasi juga tak luput dari elaborasi forum ini. Pembacaan tentang persoalan nasional, demokrasi dan gerakan rakyat merupakan pokok bahasan di sesi kedua. Di sini, forum lebih banyak menyoroti persoalan lahirnya pelbagai kebijakan negara yang menyengsarakan rakyat sebagai bentuk ketertundukan pada modal internasional.
Namun demikian, para peserta meyakini masih ada potensi gerakan rakyat, ketika letupan perlawanan rakyat masih muncul. Oleh karena itu, tugas dari pertemuan ini adalah menyambungkan sekian gelombang perlawanan di tiap daerah, demi menuju perjuangan nasional melawan imperialisme. “Riak-riak perlawanan harus segera dirangkul untuk menuju perlawanan nasional,” kata Yakub dari FSPI berapi-api.

