All human being are born free and equal in dignity and right. 
There are endowed with reason and conscience and should act
towards one another in a spirit of brotherhood.

Article I, Universal Declaration of Human Right

Newsticker
Pada umumnya, banyak orang kerap mencampuradukkan antara “penyiksaan” (torture) dengan “penganiayaan” (persecution). Seolah-olah suatu perbuatan yang disebut “penganiayaan” adalah juga “penyiksaan”. Padahal kedua istilah ini berbeda satu sama lain, karena jenis hukum keduanya juga berbeda. Dalam hubungannya dengan “penyiksaan”, ...
Nov 07

Tahanan Polres Solok Tewas Dapat Perhatian Polisi

Kasus tahanan Polres Solok Harmein (50) yang meninggal di RSUP Dr M Djamil Padang pada Sabtu (31/10) lalu terus bergulir. Pusat Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Sumbar meminta Kapolres Arusuka bertanggung jawab atas kematian tahanan tersebut.

Dalam temuan PBHI, diduga adanya indikasi tindak pidana berupa penganiayaan berat yang menyebabkan kematian sebagaimana ketentuan dalam Pasal 351 KUHP ayat (3) Jo Pasal 52 KUHP. Kematian tersebut juga melanggar HAM sebagaimana yang telah dijamin di dalam Pasal 281 (1) UUD 1945.

PBHI Sumbar dalam siaran persnya, Selasa (3/11) mendesak Kopolres Solok, Solok bertanggung jawab atas kematian Harmein karena masih dalam penguasaan kepolisian Solok. Selain itu PBHI juga meminta Komnas HAM, Bid Propam, dan Itwasda Polda Sumbar membentuk tim investigasi Independen dan mengambil tindakan sesuai fungsi dan wewenang masing-masing dalam persitiwa ini.

PBHI Sumbar juga mendesak kepolisian agar mempercepat kasus tersebut, dan menonaktifkan sementara anggota Polres Solok yang diduga terlibat selama penangkapan Harmein.

Dari kronologis yang disam­paikan PBHI Sumbar, kecuri­gaan mulai dirasakan ketika Sabtu pagi (17/10), Maryani (43) istri korban tidak diperbolehkan bertemu dengan suaminya, pada­hal kedatangannya untuk melihat kondisi dan mengantarkan pa­kaian untuk korban.

Petugas saat itu mengatakan kepada Maryani, bahwa suami­nya dalam kondisi sehat setelah diperiksa ke RSUD Solok, dan ia disuruh kembali seminggu lagi. Pada Selasa (20/10) pagi, Mar­yani menjenguk suaminya di RS Bha­yangkara, Padang dalam kondisi kritis, tidak sadarkan diri, tanpa pakaian, hidung berdarah, dengan tangan kanan terborgol, seluruh tubuh penuh luka, pelipis mata kanan robek, dan tangan kiri patah.

Maryani pun menanyakan kepada perawat bahwa suaminya sejak Sabtu malam berada di RS Bhayangkara, dalam kondisi kritis, tidak mau makan dan minum. Lalu ia menanyakan kepada petugas tentang kondisi suaminya tersebut, namun petu­gas hanya menjawab dia hanya menjalankan tugas dan perintah atasan. Kapolda Sumbar, Brigjen Pol. Sri Bambang Hermanto saat dijumpai wartawan di Wisma Kemala, Jalan Sudirman, Pa­dang, Selasa (03/11) menyatakan, tindakan anggotanya sudah sesuai prosedur.

“Prosedurnya sudah benar, karena melalui laporan polisi, keterangan saksi-saksi, kemudian penyelidikan,” ungkapnya.

Bambang menyampaikan, pada saat ditangkap Harmein mengendarai motor, lalu petugas berusaha memegangi motor, dan menangkapnya. Namun, Har­mein mencoba melarikan diri ke sebelah kandang itik lalu melom­pat ke jurang berkedalaman 10 meter.

Lebih lanjut jendral bintang satu tersebut mengatakan ada dua saksi yang melihat peristiwa itu, yaitu Afrizal alias Jon Gajah dan pemilik kandang itik.

“Inilah faktanya, tidak ada yang ditutupi,” tegasnya.

Ia juga menyatakan, bahwa saat pencarian Harmein juga disaksikan oleh ratusan masya­rakat. Dan petugas yang mencari korban pun ikut berenang karena lokasi tersebut merupakan aliran sungai. Saat ditemukan Harmein dalam konsisi lemah, lalu petugas membawanya ke rumah sakit.

Tentang Berita Acara Peme­riksaan (BAP) yang telah dibuat oleh anggota Polres Solok, Solok, Bambang menjelaskan, setelah ditangkap Harmein diba­wa ke rumah sakit dalam kondisi lemah, lalu petugas membawanya ke kan­tor untuk dilakukan BAP, namun kondisi korban terus melemah dan dibawa ke RS Bhayangkara.

Dalam BAP diwajibkan ter­tu­lis apakah saudara (tersangka/saksi) dalam kondisi sehat. Hal tersebut sudah menjadi prosedur tetap kepolisian dalam tahap pemeriksaan.

Kematian Harmein (50), juga menjadi perhatian Komisi Na­sional Hak Asasi Manusia (Kom­nas HAM). Hasil dari otopsi jenazah akan menjadi penyeli­dikannya lebih lanjut. “Untuk kasus di Solok ini kami akan menunggu hasil dari otopsinya. Kami juga terus me­mantau bebe­rapa kasus lainnya seperti Dhar­masraya dan Pesisir Selatan,” papar Komisioner Kom­­nas HAM Maneger Nasution.(h/rvo)

Sumber : harianhaluan.com

Print PDF

Pers Release

PerPPU No 2/2017 (Ormas), Kontra Reforma

Pemerintah menerbitkan PerPPU No 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan atas UU No 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan pada Senin, 10 Juli 2017 kemarin. Pemerintah berdalih, bahwa PerPPU “Ormas” ini ...

Administrator | Friday, 14 July 2017

READMORE

PBHI mendesak Negara (POLRI) untuk memb

Iwan Mulyadi, korban lumpuh permanen akibat kena tembak oleh anggota Polri 2006 yang lalu. Masih belum menerima haknya. Iwan diberlakukan tak adil oleh Negaranya. 14 Agustus 2007 melalui PN Pasaman ...

Administrator | Monday, 19 December 2016

READMORE

POLRI Ubah Kebebasan Jadi Makar

Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) mengecam tindakan aparat Bareskrim Polri dan Polda yang menangkap dan menahan 10 aktivis politik pada 2 Desember 2016, yaitu Adityawarman Thaha, ...

Administrator | Thursday, 8 December 2016

READMORE

Pseudo-Penegakan Hukum Lingkungan

Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) adalah organisasi perhimpunan yang menaruh perhatian pada pemajuan penegakan hukum, bantuan dan pembelaan hukum, dan pemajuan HAM. Merespons dikeluarkannya Surat Perintah Penghentian Penyidikan ...

Administrator | Monday, 25 July 2016

READMORE

More in: Pers Release

-
+
1

 ©2011 erHarvest All rights reserved.